“Hana, cepetan!!! Kita udah mo telat nih”
Teriak Adam dari luar rumah. Seperti biasanya, hampir setiap hari aku berangkat kesekolah nebeng motor sekuternya Adam hasil kreditan bapaknya beberapa bulan lalu tapi jangan salah aku tidak hanya nebeng begitu saja, aku memberikan hak untuk Adam dengan membelikannya seliter bensin setiap minggunya jadi kalo aku naik ojek atau angkot otomatis aku lebih hemat berangakat bareng Adam dengan Rp.5000 seminnggu dan insyaallah Adam ikhas menerimanya. Dia memang kawan terbaikku dari masa TK dulu sampai sekarang. Aku bersyukur punya teman sebaik dia.
Perjalanan dari rumah kesekolah hanya 15 menit, kami sampai didepan gerbang sekolah yang sudah terkunci rapat.
“assalamualaikum…pak Karto! Bukain gerbanganya dong heehe…” sapaku bersikap sok manis dan aku harap pak karto membukakannya untuk kami
“TIDAK!”
Sudah aku duga, pak satpam pasti tidak mau membukannnya untuk kami karna ini bukan kali pertamanya terlambat. Aku manyun.
“mo mpe berapa meter tuh bibir” celetuk Adam dan mengukur panjang manyunku dengan penggarisnya, uhh rese.
“baiklah, ayo kita cari jalan pintas” kata Adam sambil menunjuk arah dengan penggarisnya dan aku sangat tahu arah yang dia maksud, Modal nekat lagi dan lagi.
***
“waduh, kerudungku sobek. Inikan punya ka Mela”
Awan butih menggumpal keluar dari otakku membayangkan wajah garang kak Mela yang merah dengan dua tanduk yang muncul dikepalanya dan siap memakanku hidup-hidup.
Adam meniup kepalaku dan mengipaskan kedua tangannya untuk menyingkirkan awan di atas kepalaku “ngawur kamu, masa menyamakan kakakmu dengan Iblis”
“astagfirullah” aku mengelus dada tidak seharusnya aku membayangkan kak Mela seperti red devil. Kakakku itukan wanita solehah meski sifatnya yang gampang marah.
Keberhasilan kami dalam mendaki tembok belakang sekolah memang belum tersaingi hingga saat ini meski aku selalu mendapat luka kecil setiap aku melakukkanya, dan………aku pikir hal ini tidak akan terjadi lagi karna ternyata wakil kesiswaan alias pak Mulyadi telah berdiri tegap dihadapan kami.
***
“ini buat kamu” sahut Lina teman sekelasku memberikan sebuah plester luka “dari Adam” tukasnya, padahal aku baru mo buka mulut malah langsung dijawab.
“makasih” ujarku sambil menempelkan plester itu pada ibu jariku yang kena koresan batu.
“haaahhh…aku heran kenapa kalian itu terlihat begitu dekat dan saling memahami ya? kalian itu pacaran ya???” Tanya Lina menatapku dengan rasa ingin tahu dan bahkan jarak wajah kami hanya beberapa inci saja, pertanyaan itu bukan yang pertama kalinya tapi yang kesekian kalianya teman-teman bertanya hal yang sama.
Dengan sikap biasa saja aku menjawab “tidak” karna aku terbiasa menjawab pertanyaan itu.
“apapun menurut kamu dan teman-teman, aku dan Adam adalah teman sejak kecil jadi sudah seharusnyakan kami terlihat dekat tapi jangan artikan kedekatan kami adalah dengan pikiran yang tidak seharusnya ada di kepala kalian”
“maksudnya?”
“it mean, we are just friend”
“bernarkah?” Lina meragu
“aku tidak yakin, karma aku hanya bisa melihat Adam yang selalu perhatian padamu, tidakkah kamu sadar dengan perlakuannya padamu? Seperti mengantarmu pergi dan pulang sekolah, ikut organisasi yang sama, selalu membantumu disetiap saat contohnya memberikan plester itu. Ga ada cowok yang memeberikan segalanya tanpa tujuan tertentu, Na. paling bentar lagi dia nembak kamu”
Aku belum mengerti apa maksud dari perkataan Lina, kenapa dia mengatakan kalo Adam mempunyai tujuan tertentu. Menurutku tentu saja tiap orang punya tujuan ketika memberikan sesuatu pada orang lain yakni ingin menbantu orang dan mendapatkan pahala jugakan? Saat aku melihat Lina menangis tentu aku akan membantu menghapus air matanya, manusia itukan mahluk sosial, saling membutuhkan satu sama lain, itu kata guru sosiologi. Benarkan?
***
Di teras kamar, aku biasa duduk sendiri dengan beberapa buku pelajaran sekolahku dan Angin malam yang cukup dingin sampai kerudungku melambai tertiup olehnya. Aku menatapi buku sosiologiku tanpa menyentuhnya karan aku teringat ucapan Lina tadi siang. Aku pulang sekolah sendirian karna Adam ada kerja kelompok dengan teman-temannya, selama perjalanan pulang, orang yang aku ingat adalah Adam. Aku mengingat hamper semua perlakunya padaku. Seperti membantuku belajar matematika, menjemputku untuk pergi ke sekolah, setiap tahun dia selalu menjemputku untuk tarawih di masjid, dan dia selulu mendengar keluh kesahku.
“masalah akan membuatmu lebih dewasa” celetuk kak Mela dari belakangku dan ia duduk disebelahku “kenapa?”
“kenapa apanya?” tanyaku tak mengerti apa maksud pertanyaan kak Mela, baru saja datang langsung bicara seperti itu.
Aku menghela nafas “menurut kakak, aku harus bagaimana?”
“kamu belum cerita masalahnya apa adikku sayang, apa kamu bertengkar dengan Adam?”
Aku menggeleng
“bertengkar dengan Lina?”
Aku menggeleng lagi
“terus?”
“Kak, apa kakak punya pacar? Terus, bagaimana perlakuanya terhadapmu? Apa memberimu segalanya dan selalu membantumu disaat sedang ada masalah?”
“tidak”
Aku terkejut mendengar jawaban kakakku, bagaimana mungkin pacar kakakku tidak membantunya, “kenapa dia tidak bersikap baik padamu?”
Kak Mela tersenyum “Pria dan wanita itu tidak boleh bercampur sebelum menikah, paham maksudku, kan ?”
Aku mengagguk “Kak, sejak kecilkan aku sudah berteman dengan Adam dan otomatis kita jadi akrab bangetkan, aku hanya mengaggap Adam teman saja tidak lebih tapi teman-teman mengaggap kami pacaran dan lagi Linapun yang sahabatku berkata seperti itu”
“apa yang Lina katakan?”
“katanya, Adam itu seperti punya maksud tertentu padaku karna rasa perhatian Adam yang lebih padaku tapi aku tidak merasa apapun karna Adam itukan memang baik orangnya, apa yang harus aku lakukan kak, apa menanyakan langsung pada Adam maksudnya apa?”
“bodoh! Mana bisa kamu langsung bertanya padanya. Ingat, dia adalah lawan jenis kita, seberapa dekat pertemanan kalian tentu harus ada batas wajarnya”
Kak Mela berdehem “berdasarkan buku yang kakak baca, berteman dengan mahkluk yang namannya cowok itu adalah sunnatullah adikku, asalkan tidak menjadi hubungan yang special, tanpa perlakuan istimewa tapi perlakukanlah teman-teman kita dengan sama, perlakuan yang sama untuk hal yang sama”
Aku semakin penasaran dengan penjelasan kak Mela “tapi bagaimana kalo Adam itu seperti yang Lina bilang?”
Kak mela tampak berpikir “ tentu kamu yang harus cari tahu, kamu bisa liat bagaimana dia memperlakukan teman-temannya. Apakah dia bersikap sama seperti sama kamu atau berbeda? Dan kalo benar dia seperti Lina bilang, mulailah untuk jaga jarak dengannya”
“kaya angkot aja, jaga-jarak he..he..he..”
“iya dong kalo angkot ga jaga jarak bisa nubruk, kan bahaya”
Aku tersenyum, lega rasanya mengatakan hal yang membuat aku pusing. Ternyata hubungan pertemanan aku sama Adam membuat adanya fitnah, benar kata kak Mela dengan siapapun aku berteman dan sedekat apa juga aku harus tetap bersikap adil dengan yang lainnya meski aku mengenal Adam lebih lama dari pada yang lain.
“kak hebat, bagaimana kakak belajar itu semua?”
Kak mela tersenyum dan berdiri “ itu semua perkataan Bang Yoli hemdi disalah satu bukunya, dengan membaca kita bisa belajar banyak hal, de! Ingat, jaga-jarak” pesanya dan ia menghilang dibalik pintu teras kamarku sambil membawa kerudung yang kududuki
Aku manyun “aku kira itu semua perkataanya ternyata kata buku, tapi baguslah sekarang aku jadi lega…LEEEGGAAA…”
“ADEEEEE…KENAPA KERUDUNGNYA BOLOOOOONGGG????”
“ups! Maaf kak!”